Kenapa Toyota Calya Susah Mengalahkan Avanza?

Toyota Samarinda : Kenapa Toyota Calya Susah Mengalahkan Avanza?

Toyota Calya Susah Mengalahkan Avanza?

Trend SUV yang melanda dunia, ternyata tidak berlaku sepenuhnya di Indonesia. Orang Indonesia yang guyub (senang berkumpul) membutuhkan mobil yang muat banyak. Apapun bentuknya. Tidak heran, kendaraan roda empat yang mampu menampung tujuh penumpang selalu menjadi incaran.

Lebih spesifik lagi, MPV (Multi Purpose Vehicle). Sejak Toyota memperkenalkan kijang ‘minibus’ di era 1980-an, MPV seolah tidak tergoyahkan. Merek apapun, yang punya mobil jenis ini hampir bisa dipastikan mendulang sukses di pasar otomotif tanah air.

Nah, menyoal Toyota yang punya lini MPV di hampir semua segmen, menarik untuk mengulas dua produk 7-seater mereka yang ada di segmen menengah ke bawah, Toyota Avanza dan Calya. Yang muncul pertama 2004 adalah jawaban Toyota yang bekerja sama dengan Daihatsu, untuk mengisi pangsa pasar yang ditinggalkan Kijang. Yang sejak bertitel Innova, naik kelas sebagai kendaraan segmen atas.

Toyota Avanza di Afrika Selatan

Pada 2016, dengan alasan untuk mengisi segmen 7-seater di deretan LCGC, Toyota dan Daihatsu memperkenalkan lagi produk bersama mereka, Toyota Calya dan Daihatsu Sigra. Yang menarik, ternyata meski dihargai jauh lebih murah dari Avanzaa, Calya belum bisa merenggut titel sebagai mobil paling laris di deretan pabrikan Jepang ini.

Menurut data Gaikindo April 2017, Avanza selama tahun ini menorehkan 47.619 unit. Sedang Calya mengekor dengan penjualan hingga 32.789 unit. Ini menarik karena Calya, sejak awal diperkirakan menjadi pencetak uang bagi Toyota Astra Motor, sekaligus menggeser posisi Avanza sebagai mobil paling laris di jajaran produk mereka.

Harga LCGC (paling mahal Rp 150 juta), fitur hiburan dan keselamatan yang lengkap, platform monokok, mesin baru berteknologi dual VVT-i, serta kenyamanan di atas rata-rata LCGC menjadi andalan jualan di pasar. Soal kenyamanan ini, sudah kami uji, Calya memiliki kualitas NVH (Noise, Virbration, Harshness) yang sangat baik. Namun ternyata hal itu belum bisa melawan kesederhanaannya.

Calya semarang

Mobil tersebut yang dihargai paling murah Rp 189 jutaan, masih lebih menarik ketimbang Calya yang lebih murah. Hal ini memang kembali berhubungan dengan kebiasaan yang disebutkan tadi. Meski lebih mahal, tapi memiliki kapasitas dan dimensi yang lebih besar. Tujuh orang bisa duduk lebih lega, barang bawaan bisa dibawa lebih banyak. Otomatis, membuat Avanza yang menggunakan platform ladder frame memiliki nilai yang lebih baik dari Calya.

Belum lagi mesin dual VVT-i yang juga diperbaharui Toyota beberapa waktu yang lalu, turut membuat value for money. Ia terkatrol signifikan karena efisiensi BBM-nya semakin baik, plus fitur keselamatan yang ditingkatkan dengan penyematan dual airbag, serta rem ABS. Penyedia jasa taksi daring saat ini lebih memilih Avanza (atau kembarannya, Daihatsu Xenia) sebagai armadanya, dan hal ini turut menyumbang bertahannya penjualan MPV.

Sedang Calya, dengan dimensi yang lebih compact sepertinya lebih dipilih oleh mereka yang baru mulai mapan, dan memiliki keluarga kecil tanpa perlu mengangkut orang banyak. Mereka ini lebih mementingkan harga, konsumsi BBM dan daya muat yang tidak terlalu berlebihan.

Di luar kebiasaan itu, gengsi orang Indonesia nampaknya masih tinggi. Bagi mereka yang mampu, status LCGC yang melekat pada Calya dipandang miring. Tidak bisa disalahkan memang. Contohnya, karena murah kualitas interior Calya tidak bisa dibilang terbaik. Selain itu, reputasinya yang terbukti tangguh dan memiliki nilai jual yang jempolan, membuatnya bergeming dari ‘puncak penjualan MPV’.

Yang jadi pertanyaan, sampai kapan? Sejak 2004, Avanza hanya mengalami perubahan kosmetis dan peningkatan kenyamanan serta mesin tanpa ada perubahan platform. Atau tambahan fitur yang lebih canggih. Atau mungkin kesederhanaan itu yang menjadi kunci sukses? (Indra/VAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *